Rabu, 28 Februari 2018

Hadis Tentang Minum Khamar dan Tidak Diterima Shalat Seseorang Selama 40 Hari



Hadis Tentang Minum Khamar dan Tidak Diterima Shalat Seseorang Selama 40 Hari
Abstrak: dalam tlisan ini membuktikan bahwa Hadist “ kullu mukharromin khomrun yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Turmudzi berstatus shahih penelitian ini mengkaji hadist yang oleh sebagian kalangan dianggap “ mursal “ ada juga yang meletakkah “ ghorib “ oleh karenanya penulis tergelitik untuk mengkaji hadist tersebut.
     Penelitian ini termasuk penelitian literer, metode yang ditempuh adalah metode penelitian yang menggunakan buku-buku sebagai sumber datanya. Sedang sifatnya, penelitian ini termasuk bersifat deskriptif-analitik-komparatif dan interpretasi.
Kata Kunci: Hadist, shahih, Abu Daud,  at-Turmudzi
Dalam hal ini penulis mengeluarkan seluruh hadits- hadits yang berkenaan dengan minum khamar tidak diterima shalat selama 40 hari, dengan menggunakan kitab Mu’jam al-Mufahrasy Li Alfadz al-Hadits an-Nabawy karya seorang orientalis kenamaan asal belanda bernama Arnold JhonWensinck, selanjutnya penulis akan melakukan penelitian terhadap perawi hadits, dalam hal ini penulis akan membatasi dengan hanya meneliti dua periwayat saja, yaitu Abu Daud dan at-Turmudzi, karena matan hadits dalam kitab Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Majah, terdapat kesamaan matan hadits.
Maka dari penilitian hadits tersebut secara keseluruhan dari segi kualitas berstatus shahih serta sanadnya bersambung dan dari segi kuantitas berstatus shahih karena didukung oleh hadits-hadits selain dari riwayat Abu Daud dan at-Turmudzi, maka hadits tersebut dapat diamalkan Insyaallah
Penelusuran Sumber
Berdasarkan hasil penelusuran dalam kitab Mu’jam al-Mufahrasy Li al-Fazh al-Hadīts an-Nabawi[1] dengan menelusuri kosa kata شرب Hadīts ini terdapat dalam jilid 3 halaman 85, dengan kata kunci: من شرب الخمر لم تقبل له صلاة. Diperoleh bahwa Hadīts tersebut diriwayatkan oleh empat orang Mukharrīj al-Hadīts, yaitu sebagai berikut:
1) Sunan Abu Daud, bab an-Nahyu ‘Ani as-Sukr (bab larangan minum khamar), jilid 3, Hadīts no 3680, halaman 326.
2) Sunan at-Turmudzi, bab Ma jaa Fi Syaribi al-Khamr (bab apa-apa yang termasuk minum khamar), jilid 3, Hadīts no 1869, halaman 341.
3) Sunan Ibnu Majah, bab Min Syaribi al-Khamr Lam Tuqbal Lahu Shalat (bab minum khamar tidak diterima shalat), jilid 2, Hadīts no 3377, halaman 312.
 4) Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 2, halaman 176.
Namun dalam hal ini penulis memfokuskan pembahasan pada dua riwayat saja, yaitu riwayat at-Turmudzi dan Abu Daud, karena dua riwayat tersebut terdapat perbedaan lafadz Hadīts. Sedangkan riwayat yang selain itu akan penulis jadikan sebagai syahid dan tabi’, karena matan Hadīts tersebut terdapat kesamaan makna.
Adapun jalur dan skema riwayat Hadīts tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Sunan Abu Daud, bab an-Nahyu ‘Ani as-Sukr (bab larangan minum khamar)
 حَدَّثـَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ النـَّيْسَابُورِىُّ حَدَّثـَنَا إِبـْرَاهِيمُ بْنُ عُمَرَ الصَّنـْعَانِىُّ قَالَ سَمِعْتُ النـُّعْمَانَ يـَقُولُ عَنْ طَاوُسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى االله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ مُخَمِّرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَنْ شَرِبَ مُسْكِرًا بُخِ سَتْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِنْ عَادَ الرَّابِعَةَ كَانَ حَقا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ ». قِيلَ وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ وَمَنْ سَقَاهُ صَغِيرًا لاَ يـَعْرِفُ حَلاَلَهُ مِنْ حَرَامِهِ كَانَ حَقا عَلَى  اللَّهِ أَنْ يَسْقِيَ هُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ [2]» .
“Telah menceitakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ an-Naisabur, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Umar as-Shan’ani ia berkata, saya telah mendengar Nu’man berkata dari Thaus dari Ibnu Abbas dari Nabi Saw beliau bersabda: “segala sesuatu yang memabukkan adalah khamar, sedangkan semua yang memabukkan adalah haram. Siapa yang meminum sesuatu yang memabukkan, maka dihapuslah (pahala)shalatnya selama empat puluh hari. Jka dia bertaubat maka Allah berkenan menerima taubatnya, namun juka dia kembali untuk keempat kalinya (kembali minum arak setelah bertaubat) maka Allah berhak memberikan minuman dari Thinah al-Khabal kepada dirinya, salah seorang sahabat lalu bertanya, “wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Thinah al-Khabal?” beliau menjawab, “Thinah al-Khabal adalah nanah para penghuni neraka! Siapa yang meminumkan khamar kepada anak kecil yang tidak mengetahui halal dan haramnya, maka Allah berhak mencelupkan orang tersebut ke dalam nanah penghuni neraka tersebut.
b.      Sunan at-Turmudzi, bab Ma jaa Fi Syaribi al-Khamr (bab apa-apa yang termasuk minum khamar)
 حَدَّثـَنَا قـُتـَيْبَةُ حَدَّثـَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبـَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى االله عليه وسلم- « مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ يـَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَ لَيْهِ فَإِنْ عَادَ لَمْ يـَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِنْ عَادَ لَمْ يـَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِنْ عَادَ الرَّابِعَةَ لَمْ يـَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ تَابَ لَمْ يـَتُبِ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَقَاهُ مِنْ نـَهْرِ الْخَبَالِ ». قِيلَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَمَا نـَهْرُ الْخَبَالِ قَالَ نـَهْرٌ مِنْ صَدِيدِ أَهْلِ النَّارِ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِىَ نَحْوُ هَذَا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَابْنِ عَبَّاسٍ 2 عَنِ النَّبِىِّ -صلى االله عليه وسلم-.[3]
c.       Sunan Ibnu Majah, bab Min Syaribi al-Khamr Lam Tuqbal Lahu Shalat( Bab Minum khamar tidak diteriman shalat)
 حَدَّثـَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبـْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ ، حَدَّثـَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ ، حَدَّثـَنَا الأَوْزَاعِيُّ ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ ، عَنِ ابْنِ الدِّيلَمِيِّ ، عَنْ عَبْدِ االلهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ االلهِ صَلَّى االله عَليْهِ وسَلَّمَ : مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ وَسَكِرَ ، لَمْ تـُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحً ا ، وَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ ، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنْ عَادَ ، فَشَرِبَ ، فَسَكِرَ ، لَمْ تـُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا ، فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ ، فَإِنْ تَابَ ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنْ عَادَ ، فَشَرِبَ ، فَسَكِرَ ، لَمْ تـُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا ، فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ ، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَإِنْ عَادَ ، كَانَ حَقا عَلَى االلهِ ، أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ رَدَغَةِ الْخَبَالِ ، يـَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوا : يَا رَسُولَ االلهِ ، وَمَا رَدَغَةُ 3 الْخَبَالِ ؟ قَالَ : عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ. [4]
d.      Musnad Ahmad bin Hanbal
 حَدَّثـَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبـْرَاهِيمَ ، حَدَّثـَنَا عُبـَيْدُ االلهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ ، عَنْ ابْنِ عَمٍّ لأَبِي ذَرٍّ ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ االلهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ شَرِبَ الْخَمْ رَ لَمْ يـَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ لَيـْلَةً ، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، فَإِنْ عَادَ كَانَ مِثْلَ ذَلِكَ ، فَمَا أَدْرِي أَفِي الثَّالِثَةِ أَمْ فِي الرَّابِعَةِ قَالَ رَسُولُ االلهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَإِنْ عَادَ كَانَ حَتْمًا عَلَى االلهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ قَالُوا : يَا 4 رَسُولَ االلهِ ، وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ ؟ قَالَ : عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ. [5]

Analisa Sanad
Jalur Abu Daud Rangkaian periwayatan Hadīts tersebut dengan urutan jalurnya sebagai berikut: Sahabat Abdullah bin Abbas, Thaus bin Kaisani, Nu’mān bin Abi Syaibah, Ibrahim bin Umar ash-Shan’āni, Muhammad bin Rafi’ an-Naisabury, dan Abu Daud. Dan hasil penelitiannya sebagai berikut:
1.      Abdullah bin Abbas[6]
Nama beliau: Abdullah bin Abbas bin Abdu al- Mutholib al-Qurasy al-Hasyimi, Abu al-Abbas al- Madani, anak paman Rasulullah Saw - Nabi Saw - Ubay bin Ka’ab - Abdu ar- Rahman bin Auf -dan banyak lagi guru-guru beliau karena beliau seorang sahabat Nabi Saw - Ishaq bin Abdullah bin Kinanah -Thaus bin Kaisani -Serta banya lagi yang meriwayatkan Hadīts dari beliau -W 69 H -W 70 H
2.      A’dil Thaus bin Kaisan[7]
Nama beliau: Thaus bin kaisani al-Yamani, Abu Abd ar-Rahman -Jabir binAbdullah - Zaid bin Arqam -Abdullah bin Abbas -Abu Hurairah -Laits bin Abi Sulaim -Nu’mān bin Syaibah -Atho’ bin as- Saib W 101H - Ishaq bin Manshur: Tsiqoh Hafidz
3.      Nu’mān bin Abi Syaibah[8]
Nama beliau : Nu’mān bin Syaibah -Ziyad bin Risydin al- Janadi -Thaus bin Kaisani -Anaknya Abdullah bin Thaus -Ibrahim bin Umar ash- Shan’āni -Abd ar- Razzaq bin Hamman -Mu’tamar bin Sulaiman. - -Abu Hatim: Syaikh -Berkata Abu bakar bin Khaitsamah, dai Yahya bin Ma’in: Tsiqoh
4.       Ibrahim bin Umar ash-Shan’āni[9]
Nama beliau adalah: Ibrahim bin Umar al-Yamani , Abu Ishaq ash- Shan’āni -Ziyad bin Risydin al- Janadi -Thaus bin Kaisani -Anaknya Abdullah bin Thaus Muhammad bin Rafi’ an- Naisaburi -Nuh bin Habib al- Qumusi, dan beliau meriwayatkan Hadīts dari Abu Daud dari Thaus bin Thaus dari Ibnu Abbas: كُلُّ مُخَمِّرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ  sebagaimana yang terdapat dalam kitab “Tadzhib al- Kamal Fi Asma’ArRijāl” - Beliau seorang yang meriwayatkan Hadīts tentang khamar ini jadi beliau seorang yang Tsiqoh
5.      Muhammad bin Rafi’ an- Naisaburi[10]
Nama lengkap beliau adalah: Muhammad bin Rafi’ bin Abi Zaid Syabur al-Qusyairy Ibrahim bin Umar ash- Shan’āni -Husain bin Ali al-Ju’fi -Sufyan bin Uyainah .-An-Nasai -Abu Daud -Ibrahim bin Abi Thalib W 245 H. Ahmad bin Hanbal: Hafidz, dan Wara’
6.      Abu Daud[11]
Nama lengakap beliau adalah Sulaiman bin al- Asy’ats bin Syaddad bin Amru bin Amir (Abi Hatim) -Muhammad bin Rafi’ an- Naisaburi, -Ibrahim bin basyar, al- Ramadi, -Humaid bin Ma’adah -At-Tirmidzi, -Abi al-Thib, -Ahmad bin Ibrahim bin Abd al- Rahman bin al- Asy’āni W 275 H Rawi yang tidak perlu diragukan lagi ke tsiqohannya Dari jalur sanad yang terdapat pada pada riwayat Abu Daud terlihat beliau langsung menerima Hadīts dari gurunya Muhammad bin Rafi’ an- Naisaburi dengan sighat tahammul wal ada’ yang dipakainya yaitu اَنَدَّثـَح. Bukti kedua terlihat dari status hubungan mereka berdua antara guru dan murid. Muhammad bin Rafi’ an-Naisaburi sighat tahammul wal ada’ yang dipakainya juga اَنَدَّثـَح kepada Ibrahim bin Umar ash-Shan’āni. Lafadz اَنَدَّثـَح memberi indikasi bahwa seorang rawi langsung bertemu dengan gurunya.
Sighat tahammul wal ada’ yang dipakainya yaitu ُتْعِمَس, memberi indikasi bahwa beliau langsung bertemu dan mendengar Hadīts dari gurunya Ibrahim bin Umar ash-Shan’āni. Sedangkan dari Nu’mān bin Abi Syaibah sampai kepada Nabi Saw menggunakan lafadz  ْنَع. Ini member indiksi mereka pernah bertemu dan sezaman, walaupun sighat ْنَع tidak sekuat اَنَدَّثـَح. Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan tabel dan keterangan- keterangan tersebut adalah sanad Hadītsnya bersambung baik dari segi keterkaitan antara guru dan murid serta teruji kredibelitas seluruh rawinya, walaupun ada beberapa rawi yang tidak ditemukan tahun lahir dan wafatnya, yang secara otomatis menjadikan Hadīts riwayat Imam Abu Daud ini shahih dan dapat dijadikan Hujjah.
A.    Biografi Sanad Jalur at-Turmudzi
Rangkaian periwayatan Hadīts tersebut dengan urutan jalurnya sebagai berikut: Sahabat Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Ubaid bin Umair, ‘Atho’ bin as-Saib, Jarir bin Abdi al-Hamid, Qutaibah, dan at-Turmudzi.
1.      Abdullah bin Umar[12]
Nama beliau adalah: Abdullah bin Umar bin Khattab al-Qurasy al-Adawy - Nabi Saw - Zaid bin Tsabit - Abdullah bin Mas’ud - Ali bin Abi Tholib -Thaus bin Kaisani -Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq -Basar bin Sa’ad al- Madani W 74 H -Hafshah: Shalih
2.      Abdullah bin ‘Ubaid bin Umair[13]
Nama beliau adalah: Abdullah bin ‘Ubaid bin Umair bin Qotadah, bin Sa’ad bin ‘Amir bin Jundu’ bin Laits al-Laitsi kemudian al- Junda’i, Abu Hasyim al-Makki, anaknya Muhammad bin Abdullah bin ‘Ubaid bin Umair -Abdullah bin Umar -Abu Hurairah -Ziyad bin Risydin al- Janadi -Anaknya Abdullah bin Thaus -Harits bin Abdullah bin Rabi’ah -Thaus bin Kaisani –Abdul Malik bin abi Bakr Abdirrahman bin al-Harits W 113 H . -Abu Zur’ah dan Abu Hatim : Tsiqoh.
3.      ‘Atho’ bin as-Saib[14]
Nama beliau adalah: ‘Atho’ bin bin as-Saib bin Malik, ada yang mengatakan Abu Zaid, ada yang mengatakan Abu -Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair -Thous bin Kaisani -Katsir bin Jumhan -Sufyan bin Uyaynah -Jarir bin Abd al-Hamid -Ja’far bin Abi Ziyad W 136 H. Yahya bin Ma’in: Ikhtilath (hafalannya bercampur), dan ada yang mengatakan Abu Yazid al-Kufi sebelum ia ikhtilath maka Hadīts tersebut Shahih
4.      Jarir bin Abd al- Hamid[15]
Adapun nama beliau adalah Jarir bin Abd al-Hamid bin Qurdin ad- Dhibi, Abu Abdillah ar-Razi al- Qady Ismail bin Abi Khalid, Asy-Ats bin Sauwar -Atho’ bin as- Saib -Manshur bin Mu’tamar -Ishaq bin Rahuyah -Qutaibah bin Sa’id -Sulaiman bin Harb L 107 H W 188 H -An-Nasa’i: Tsiqoh -Berkata Abd ar-Rahman bin Yusuf bin Hirasy: Shaduq
5.      Qutaibah[16]
Nama lengkap beliau adalah: Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Thoriq bin Abdillah ats-Tsaqofi -Hammad bin Yazid -Jarir bin abd al- Hamid adh- Dhibi - Muhammad bin Abdillah al- Anshari -Al-Jama’ah kecuali Ibnu Majah -Ali bin al- Madini L 148 H W 148 H Ahmad bin Abi Khaitsamah dari Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, dan an- Nasa’i: Tsiqoh
6.      At-Turmudzi[17]
Nama lengkap beliau Muhammad bin Isa bin Tsaurah bin Musa bin al- Dhahhak -Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad al-Nasafi - Humaid bin Mas’adah, -Qutaibah -Ishaq bin Ibrahim -Humaid bin Mas’adah - Ali bin Thasram W 277 H Rawi yang tidak perlu diragukan lagi ke tsiqohannya.
Adapun sighat tahammul wal ada’ yang dipakai dalam jalur Hadīts yang diriwatkan oleh Imam at-Turmudzi ini yaitu اَنَدَّثـَح, yang mana beliau langsung bertemu dan sezaman dengan gurunya yaitu Jarir bin Abd.al-Hamid, kemudian lafadz  ْنَع sampai kepada ‘Ubaid bin Umair, dan lafadz  َالَق sampai kepada Nabi Saw. Dengan melihat tabel tersebut maka dapat disimpulkan dari keterkaitan sanad antara guru dan murid serta komentar ulama terhadap rawi-rawinya, maka dapat disimpulkan bahwa Hadīts riwayat imam at- Tirmidzi ini berkualitas shahih, walaupun Atho’ bin as-Saib ikhtilath hafalannya pada akhir hayatnya. Sedangkan Hadīts yang beliau riwayatkan bukan semasa hafalan beliau bercampur dan ini dapat dilihat dari tahun wafat beliau.
Skema Sanad
Rasulullah Saw
Abdullah bin Umar
Qutaibah
Jarir bin Abdi al-Hamid
‘Atho’ bin as-Saib
Abdullah bin ‘Ubaid bin Umair
Turmuzi
Rasulullah Saw
Abu Daud
Abdullah bin Abbas

Muhammad bin Rafi’ an-Naisabury
Thaus bin Kaisani
Nu’mān bin Abi Syaibah
Ibrahim bin Umar ash-Shan’āni
            


B.     Analisa Matan
Dari Hadīts-Hadīts yang telah di paparkan, dapat dipahami ada beberapa Hadīts yang diriwayatkan secara makna ( Hadīts Maknawi). Dalam riwayat Abu Daud, at-Turmudzi, Ibnu Majah dan ad-Dharimi, ,dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal , أَرْبَعِينَ صَبَاحًا memakai kata memakai kata ًةَلْيـَل َينِعَبْرَأ.
Dalam teks matan Hadīts di atas secara subtansial tidak terdapat perbedaan dalam pemaknaan Hadīts, semua Hadīts tersebut artinya tidak diterima shalat 40 hari. Karena matan Hadīts dapat dinyatakan maqbul (diterima) sebagai matan Hadīts yang shahih apabila memenuhi unsur- unsur sebagai berikut:
1. Tidak bertentangan dengan akal sehat.
2. Tidak bertentangan dengan hukum al-Quran yang telah Muhkam ( ketentuan hukum yang telah tetap).
3. Tidak bertentangan dengan Hadīts mutawatir.
4. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama Salaf (terdahulu).
5. Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti.
6. Tidak bertentangan dengan Hadīts Ahad yang kualitas keshahihannya lebih kuat.[18]
Dapat disimpulkan bahwa Hadīts yang diteliti dalam penelitian ini tidak ada yang menyalahi kriteria keshahihan matan Hadīts yang telah dipaparkan di atas. Sehingga matan Hadīts tersebut kedudukannya adalah Shahih.[19]
Shalat merupakan salah satu ibadah yang sangat penting bagi umat Islam untuk dikerjakan, maka untuk itu ibadah shalat ini haruslah sesuai dengan perintah Nabi Saw dan haruslah bersih dari berbagai Hadats dan Najis yang dapat membatalkan shalat. Maha benar Allah yang telah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 91: ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاَ ةِ فـَهَلْ أَنـْتُمْ مُنْتـَهُونَ . إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بـَيـْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبـَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِ رِ وَيَصُدَّكُمْ عَ نْ “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
Shalat itu terdiri dari perkataan, perbuatan dan amalan hati yang bersih dan ikhlas karena Allah semata yang dilaksanakan dengan sadar dan khusyu’. Oleh sebab itu, dapatkah seseorang yang pikirannya rusak, hatinya kotor, dan perutnya keracunan mengerjakan semua itu?. Bagi orang-orang yang beriman, melakukan ibadah akan mendapatkan dua hasil: Hasil pertama: menunaikan kewajban. Seperti: shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Hasil kedua: mendapatkan ganjaran/pahala dari apa yang telah ditunaikan. Syari’at Islam sangatlah keras melarang minum khamar, karena khamar dianggap sebagai induk dari segala keburukan (Ummul Khabaits), di samping merusak akal, jiwa, kesehatan dan harta.
Dari sejak awal, Islam telah berusaha menerangkan kepada umat manusia, bahwa mamfaatnya tidak seimbang dengan bahaya yang ditimbulkannya,. Adapun sabda Nabi Saw: “Tidak diterima shalat selama 40 hari: maksudnya: bahwa ia tidak akan mendapat ganjaran/pahala dari hasil shalatnya tersebut. Adapun dikhususkan shalat dalam sabda Nabi Saw ini, karena shalat itu seutama-utama ibadah badan.[20] Tidak diterima di sini bukan artinya jika dia shalat maka shalatnya tak diterima. Akan tetapi maksudnya di sini adalah bahwa pahala shalatnya selama 40 hari akan terhapus dengan dosa dia minum khamar sekali.
Karenanya selama 40 hari itu dia tetap wajib shalat, jika tidak, maka dia berdosa dua kali, dosa minum khamar dan dosa meninggalkan shalat. Maka jika shalatnya tidak diterima (tidak  dipahalai), maka amal-amal ibadah yang lainnya lebih utama untuk tidak diterima . Sungguh mengagumkan apa yang disabdakan Nabi Saw di atas, kini telah tersingkap oleh ahli-ahli kesehatan tentang nikmat yang besar tentang apa yang beliau sabdakan tersebut. Mereka telah membuktikan, bahwa racun-racun alkohol itu mengendap di dalam tubuh selama 40 hari. Ini untuk orang yang sekali minum khamar. Racun itu menetap dalam jangka waktu yang lama dengan mengadakan perusakan dalam sel-sel tubuh manusia. “Allah tidak akan menerima taubatnya”. Maksudnya: ini merupakan suatu ancaman dan peringatan yang sangat keras supaya jangan mengulangi lagi meminum khamar dan menganggap ringan larangan Allah Swt. Dan bukan taubatnya tidak diterima sama sekali. Tidak demikian! Bahkan kalau seseorang tersebut mau bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan kembali munum khamar, niscaya Allah akan menerima taubatnya. Karena Allah maha penerima taubat akan hamba-hambanya yang melakukan dosa.
Adapun Orang yang minum khamar kena hukuman jilid, baik ia sampai mabuk atau tidak, dijilid 40 kali.(dengan syarat orang islam yang baligh dan berakal serta mengerti haramnya khamar).[21] Meminum arak atau apa saja yang memabukkan, maka wajib dihukum had berupa 40 kali cambuk. Hukuman ini boleh ditambah sampai 80 kali cambuk dengan jalan di karenakan ta’zir. Sebagaimana yang dijelaskan disalah satu Hadīts Nabi Saw:
حَدَّثـَنَا مُسْلِمٌ حَدَّثـَنَا هِشَامٌ حَدَّثـَنَا قـَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَلَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ بِالْجَرِيدِ وَالنـِّعَالِ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ .
“Telah menceritakan kepada kami Muslim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas bin Malik dia berkata: Nabi saw mencambuk dalam perkara khamar dengan pelapah kurma dan dengan sandal. Abu bakar mencambuk dalam perkara khamar sebanyak 40 kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 Dalam hukum Islam, seseorang yang meminum khamar, selain berurusan dengan Allah, juga berurusan dengan hukum positif yang Allah turunkan. Hukumannya adalah dipukul/cambuk. Para ulama mengatakan bahwa untuk memukul peminum khamar, bisa digunakan beberapa alat antara lain: tangan kosong, sandal, ujung pakaian atau cambuk.
Kesimpulan: hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa hadist yanag diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Turmudzi berstatus shahih baik sanad maupun matan karena telah memenuhi syarat hadist shahih menurut beliau berdua.





DAFTAR PUSTAKA

Al-Adzim, Muhammad Syamsul Haq. 1971.  Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud, Juz 6, Beirut: Darl al-kutub al-Ilmiyah
Al-Mizzi, Abdurrahman. 1982. tadzhib al-Kamal Fi Asma’’ ar-Rijal. Beirut: Muassalah al Risalah
Al-Mizzi, Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman. 1994. Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijal. Beirut: Darl al-Fikr
Al-Qazwaini, Abi Abdillah Muhammad ibn Yazid. 2003. Sunan ibn Majah. Beirut: Darl: al-Fikr
Al-Sijistaany, Abu Daud. 2003. Sunan Abu Daud. Beirut: Darl al-Fikr
As-Syaibani, Ahmad Bin Hambal Abu Abdillah. 2003. Musnad Imam Ahmad Bin Hambal. Beirut: Darl al-Fikr
At-Turmudzi, Muhammad bin Isa. 2003. Sunan at-Turmudzi. Beirut: Darl al-Fikr
Ismail, Muhammad Syuhudi. 1991. Cara Praktis Mencari Hadits. Jakarta: Bulan Bintang
Rifa’I dkk, Moh. 1978. Kifayatul Akhyar. Semarang : CV. Toha Putra
Wensinck, A. J. 1946. Al-Mu’jam Al-Mufahras Lil Al-Fadz Al-Hadits An-Nabawi. Madinah Leiden: Brill.



[1] A.j. Wensinck, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadz Al-Hadits An-Nabawi (Madinah Leiden: Brill, 1946), hal. 85
[2] Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy’as al-Sijistaany, Sunan Abu Daud ( Beirut: Darl al-Fikr, 1424 H/2003 M), jilid 3, Hadīts no 3680, hlm, 326.
[3] Abu Isa Muhammad bin Isa at-Turmudzi, Sunan at-Turmudzi, (Beirut: Darl al-Fikr) , juz 3, hlm. 341.
[4] Abi Abdillah Muhammad ibn Yazid al-Qazwaini, Sunan ibn Majah, (Beirut: Darl: al-Fikr), juz 2, hlm., 312.
[5] Ahmad Bin Hambal Abu Abdillāh as-Syaibāni, Musnad Imam Ahmad Bin Hambal (Beirut: Darl al-Fikr, t,t), juz 2, (Beirut: Darl Fikr ), hlm, 176.
[6] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 250-255.
[7] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 213
[8] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 120
[9] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 398
[10] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 267-269
[11] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 358
[12] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 356-362
[13] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 312
[14] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 45-58
[15] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 357-364
[16] Hafidz Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf Abdurrahman al-Mizzi, Tadzhib al-Kamal Fi Asma’ Ar-Rijāl (Beirut: Dārl al-Fikr, 1994 M/1414 H), Jilid 10, hlm, 236-244
[17] Abdurrahman al-Mizzi, tadzhib al-Kamal Fi Asma’’ ar-Rijal ( Beirut: Muassalah al-Risalah, 1982 M/1402 H) , Jilid 16, hlm. 250.
[18] Muhammad Syuhudi Ismail, Cara Praktis Mencari Hadīts,( Jakarta: Bulan Bintang 1991), hlm, 126.
[19] Muhammad Syuhudi Ismail, Cara Praktis Mencari Hadīts, Jakarta: Bulan Bintang 1991, hlm, 126. 47
[20] Muhammad Syamsul Haq al-Adzim Abadi Abu al-Thayyib, Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud, Juz 6 ( Beirut: Darl al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H), hlm, 505.
[21] Moh. Rifa’I dkk, Kifayatul Akhyar, (Semarang:CV.Toha Putra, 1978), hlm. 379-380.