“TAFSIR
SYEKH THOHIR IBN ASYUR DALAM AT TAHRIR WA
AT TANWIR”
Di Ajukan Untuk
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Semester
Ganjil
(Tiga) Tahun Akademik 2016/2017
Dosen Pembimbing :
Dr. Hasani Ahmad Said, MA.
Oleh:
Sahrul Badri : ( 11150340000204 )
ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016/2017
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt, yang
memberikan kita nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa bertemu dan
melaksanakan aktivitas sebagaimana mestinya.
Selawat
salam tak lupa kita ucapkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang
membimbing kita ke jalan petunjuk Al-Qur’an dan sebagai rahmatan lil-alamin. Waa
Hudallil Mutaqqin. Serta agama yang benar yakni agama islam, keluarga serta
sahabat-sahabatnya, hingga hari ahir.
(Amma ba’du).
Selanjutnya
penyusun membahas atau membawakan tema tentang Muhammad Ibnu Asyur dan
Metodologi penafsirannya dalam kitab Al-Tahrir Wa Al-Tanwir hasil karya beliau
sendiri, disini penyusun hanya melihat bagaimana sistematika dan metodologi
penafsirannya, bukan mensyarah (menambah isi) kitab tersebut, karena kita sama
sama sadari posisi dan kapasitas kita jauh dibanding dengan pengarang kitab
ini, atau dengn ulam mufasir lainnya, karena itu apa bila ada yang kurang atau
salah dalam memberikan sajian mengenai
metodologi beliau, itu semata-mata kekurangan penyusun dan literatur yang penyusun
baca, Kita sadar tak ada manusia yang sempurna diatas bumi ini, oleh karena itu
penyusun berharap bimbingan pada dosen untuk memberikan saran dan pemahaman
supaya lebih baik dari sebelumnya.
Pepatah
mengatakn “tak ada
gading yang retak” artinya
manusia tak ada yang tak salah dan kurang, mohon maaf atas salah dan khilaf.
Terimakasih
banyak atas kesediaannya membaca dan mengkeritisi demi khazanah keilmuan kita,
amiin.
DAFTAR ISI
COVER
…………………………………………………………...
KATA PENGANTAR…………………………………………….
DAFTAR
ISI………………………………………………………
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang……………………………………….........
B.
Rumusan Masalah.………………………………………...
C.
Tujuan Penulisan………………………………………….
BAB II PEMBAHASAN
A.
Biografi Syekh Thohir Ibn Asyur…………………………
B.
Metode Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir……………….........
1.
Pengertian Metode Tafsir………………………………
2.
Metode Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir…………….........
3.
Pendekatan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir……………..
4.
Sistematika Penafsiran Tafsir Tahrir Wa At Tanwir…..
C.
Sumber Rujukan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir ………….
D.
Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Tahrir Wa At Tanwir…
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………...
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ibn
Asyur mulai menulis tafsirnya setelah beralih jabatan dari qodi menjadi mufti
(1341/ 1923 M).
Tafsir 30 juz sebanyak 15 jilid ditulis dalam waktu 39 tahun meskipun
diselingin dengan penulisan karya-karya lainya, buku maupun makalah menunjukkan
kesungguhan penulisnya, keikhlasan dan tekad kuat penulisnya untuk mewujudkan
obsesinya berupa kitab tafsir yang utuhyang menyatukan antara kemaslahatan
dunia dan akhirat.
Penulisan tafsir selama ini tentu telah diwarnai oleh berbagai peristiwa,
perubahan dan peralihan yang besar di masyarakat Tunis. Usaha merebut
kemerdekaan dari penjajah, berbagai tantangan yang dihadapi gerakan reformasi
tentu berimbas pengaruhnya pada penafsiran Ibn Asyur. Gerakan reformasi dan
pembaharuan yang dimotori oleh Muhammad Abduh di Mesir (1849- 1905), telah
merebak ke berbagai belahan negara Islam. Tak terkecuali Tunis. Ide-ide
pembaharuan Muhammad Abduhmulai mempengaruhi para intelektual Tunis tak
terkecuali Ibn Asyur.
Pendidikan
adlah obyek reformasi yang selalu dihimbau oleh Muhammd Abduh di Mesir,
himbauan yang sama juga bergema di Tunis. Ibn Asyur merespon himbauan tersebut
dan bergerak mereformasi pendidikan di Azzaitunah, mengikuti jejak-jejak ulama
sebelumnya, ide-ide seputar pembaharuan dan reformasi pendidikan dituliskan
dalam berbagai pembahasan. Reformasi Ibn Asyur menjadi tidak hanya pada sisi
teori, tetapi merambah ke gerakan reformasi, hasilnya adalah dibangunya
cabang-cabang Azzaitunah di berbagai kota di Tunis. Kualitas pendidikanpun
ditingkatkan dengan menambahkan ilmu-ilmu selain ilmu syariah seperti
matematika, kimia, filsafat, sejarah dan bahasa inggris.
Menelaah
pembukaan Tafsir Ibn Asyur membuktikan bahwa Ibn Asyur memiliki cara
tersendiriuntuk menafsirkan dan corak tafsirnya yang fenominal. Dari penafsiran
ini pula bisa ditelusuri jejak-jejak keterlibatan Ibn Asyur dalam gerakan
reformasi di Tunis, dimana Ibn Asyur tumbuh kembang, pemikiran dan
langkah-langkahnya dipengaruhi oleh ide-ide yang digagas dalam rangka
reformasidan pembaharuan di Tunis.
Sejak
awal penulisan tafsirnya Ibn Asyur memang selalu kometmen untuk menjadikan
penafsiranya sebagai sebuah kritik bukan taqlid. Sisi pembaharuan Ibn
Asyurdapat dicermati dari obsesinya menafsirkan Al-qur’anyaitu memunculkan
hal-hal baruyang belum ditulis dalam tafsir-tafsir sebelumnya, menjadikan
penafsirnya sebagai penengah dari tafsir-tafsir lainya yang menggabungkan
sumber penafsiranya pada tafsir bi al-ma’tsur dan bi al-ro’yi, karena menurut
Ibn Asyur membatasi penasiran hanya pada tafsir bi al-ma’tsur akan
menelantarkan isi kandungan Al-qur’an yang memang tidak akan pernah habis untuk
dibahas.
Bakhan menurut Ibn Asyur diantara sebab-sebab terlambatnya perkembangan ilmu
tafsir dan tafsir itu sendiriadalah kecendrungan yang berlebihan terhadap
tafsir bi al-ma’tsur dan penukilan terhadap perkataan Sahabat dan Tabiin.
Ketakutan melakukan kekeliruan dalam penafsiran, mengakibatkan orang hanya
menjadikan tafsir bi al-ma’tsur sebagai satu-satunya sumber penafsiran. Padahal
nabi tidak menafsirkan seluruh ayat Al-qur’an, disamping apa yang diambil dari
tafsir bi al-ma’tsur mungkin ada yang perawinya lemah, adisamping orang
beranggapan bahwa menyalahi tafsiryang dinukil dari perawi sebelumnya dianggap
keluar dari apa yang dimaksudkan dari Al-qur’an.
Pada
kondisi seperti ini, pada akhirnya tafsir hanyalah berupa penukilan dari
tafsir-tafsir sebelumnhya yang akan membatasi pemahaman terhadap Al-qur’an dan
mempersempit maknanya. Contoh nyata dari pembaharuan Ibn Asyur bisa dilihat
pada nama tafsirnya yang semula berjudul Tahrir al-Ma’na al-Sadid wa Tanwir
al-Aql al-Jadid (Memilih Makna yang Tepat dan Mencerahkan akal yang baru)
kemudian judul tafsirnya yang panjang itu disingkat menjadi al-Tahrir wa
al-Tanwir.
B. Rumusan
Masalah
1. Siapakah Muhammad Ibnu Asyur ?
2.
Bagaimana Metode Penafsiran
Muhammad Ibnu Asyur Dalam Kitab Tafsirnya ?
3.
Apa Sajakah Karya-Karya
Ilmiah Ibn Asyur ?
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui Biografi Tokoh Mufassir yakni Muhammad Ibnu Asyur.
2.
Mengetahui
Bagaimana Metode Yang Di Pakai Dalam Menafsirkan Al- Qur’an
al- Karim Dalam Kitab Tahrir Al Ma’na Al Sadid Wa Tanwir Al Aqli Al Jadid Min Tafsir
Al Kitab Al Jadid.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi
Ibn Asyur
Ia
adalah Muhammad al-Thahir ibn Muhammad al-Thahir ibn Asyur.
Keturuna keluarga Asyur yang terkenal di Tunis, karena memiliki posisi ilmiah dan jabatan di
pemerintah.
Ibn
Asyur dilahirkan pada tahun 1296 H/ 1879 M di kota Mousa, yang terletak di sebelah utara Tunisia. Ibn Asyur tumbuh
dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan.
Pendidikanya diperhatikan penuh oleh ayah, ibu, dan kakeknya. Mereka
menginginkan cucunya menjadi orang yang terhormat seperti nenek moyang mereka.
Ibn
Asyur mulai belajar al-qur’an sejak usia 6 tahun. Ia kemudian menghafal Matan
al-jurumiyyah dan bahasa perancis. Baru pada usia 14 tahun, Ibn Asyur
tercatat sebagai murid pada Universitas Az-Zaitunah (1310 H/ 1839 M). Di
sana ia belajar ilmu syariah (fiqh dan ushul fiqh), bahasa Arab, hadist,
sejarah, dan lain-lain. Setelah belajar selama 7 tahun di Universitas
Az-zaitunah Ibn Asyur berhasil menempuh gelar sarjana, tepatnya pada tahun 1317
H/ 1899 M.
Sekian
banyak ilmu yang didapat dari Universita Azzaitunah Nampaknya belum memenuhi
dahaganya dalam menuntut ilmu. Di waktu luangnya, Ibn Asyur menghabiskan
waktunya dengan membaca buku-buku tafsir, buku-buku al-Milal wa al-Nihal,
menghafal hadist-hadist, syair-syair arab dari masa pra Islam hingga
sesudahnya, membaca buku-buku sejarah, dan lain-lain.
Semua
ilmu yang diperolehnya dari Azzaitunah dan aktivitas keilmuanya telah ikut
andil membentuk kepribadian dan intelektualitasnya yang tinggi. Di samping itu
perhatian ayah dan kakeknya yang menanamkan akhlak mulia kepada Ibn Asyur telah
memberikan pengaruh pada pribadinya yang bersahaja sebagai seorang ulama di
Tunis. Ibn Asyur wafat pada 1393 H/ 1973 M.
B.
Metode Penulisan Tasir Ibnu Asyur (Tafsir Tahrir Wa
At Tanwirir)
Metode
(Thariqoh) kata metode diambil dari bahasa yunani, yaitu metodhos
yang artinya cara atau jalan. Dalam bahasa arab metode, dikenal dengan thariqoh.
Metode dalam bahasa Indonesia berarti cara yang teratur dan terpikir baik untuk
m,encapai maksud. Namun metode yang dimaksud di sini di kaitkan dengan metode
tafsir yang berarti pengetahuan mengenai cara yang ditempuh dalam menelaah,
membahas dan merefleksikan kesan-kesan Al-Qur’an secara apresiatif berdasarkan
kerangka konseptual tertentu sehingga menghasilkan karya tafsir yanag
apresiatif.
Mengkaji tafsir buah karangan Ibnu
Asyur tentu kita lihat dari berbagai aspek mulai dari segi materi, kitab ini
terdiri dari tiga puluh juz dan terbagi kepada dua belas jilid. Masih
diterbitkan oleh penerbit tunggal yang cukup terkenal. Sebuah tafsir
kontemporer yang memiliki ciri khas tersendiri dalam paparannya menafsirkan
ayat-ayat Al-Quran. Memiliki tampilan unik dan berbeda dengan kitab lain secara
menyeluruh. Memiliki metode penyusunan yang konferhensif, yang tidak
menghususkan satu jilid untuk satu juz saja melainkan secara acak. Kadang
memuat dua juz bahkan sampai lima juz perjilidnya.
Beliau memulai tafsirnya dengan sekelumit materi tentang hal-hal yang
berhubungan dengan pengetahuan dasar memahami seluk beluk gaya bahasa Al-Quran
secara singkat. Memaparkan muqaddimahnya sampai kepada sepuluh bagian
pembukaan, mulai dari penjelasan tafsir dan ta'wil, penjelasan fenomena tafsir
bil ma'tsur dan bir-ra'yi, asbabununnuzul, sampai kepada i'jazuI Qur’an.
Itupun sampai menghabiskan seratus
halaman pertama untuk penjelasan sesingkat ini. Mendeskripsikan cakupan bahasan
dalam tafsir ini, beliau mengungkapkan dalam pendahuluan tafsirnya, “Saya
benar-benar berusaha menampilkan dalam tafsir Al-Quran hal-hal langka yang
belum digarap oleh ulama tafsir sebelumnya. Menempatkan diri sebagai penengah
perbedaan pendapat ulama yang pada satu waktu sepaham dengan salah satunya dan
pada waktu lain berseberangan pendapat dengan alasan tersendiri. Dalam tafsir
ini, saya berusaha mengungkap setiap i'jazul Quran, nilai-nilai linguistik arab
(balaghah) , gaya bahasa (badi’), yang terkandung dalam sebuah kalimat Al-Quran
serta menjelaskan uslub-uslub penggunaannya menjelaskan hubungan antara satu
ayat dengan ayat lainnya, terutama antara satu ayat dengan ayat sebelum dan
sesudahnya.
Al-Quran telah didesain dengan
sangat luar biasa, memiliki susunan yang unik namun tetap memiliki
ketersambungan antara satu ayat dengan ayat lain. Tidak melewatkan satu surat
pun dalam Al-Quran kecuali berusaha menjelaskan secara lengkap setiap maksud
yang terkandung di dalamnya secara utuh. Tidak sebatas menjelaskan makna setiap
kata dan kalimatnya saja secara parsial, melainkan merangkai kembali makna tiap
kata dan kalimat yang telah diurai terpisah menjadi satu tujuan atau maksud
yang diusung oleh setiap ayat maupun surah Al-Quran. Dalam metode pemaparan
tafsir ini, tidak terlewatkan penjelasan secara gamblang tinjauan bahasa setiap
kata dalam Al-Quran, menyimak hikmah dari pemilihan kata yang digunakan sampai
kepada sisi gramatikal setiap kalimat. Secara spesifik menilik setiap Al-Quran
dari kacamata ilmu nahwu dan tashrif, turut melengkapi posisi i'rab dari penggalan
kata-kata Al-Quran.
Kita mnegetahui bahwa
Muhammad Ibnu Asyur menitikberatkan terhadap tafsirnya Al tahrir wa tanwir
terutama menjelaskan sisi-sisi i’jaznya, linguistik arab (balagah).
Setelah menjabarkan
panjang lebar tentang pendekatan Muhammad Ibnu Asyur dalam menulis tafsirnya
bisa kita simpulkan metode yang dipakai hanya mencakup satu metodolgi yaitu
metode bil-lughah atau masuk ke metode
tahlili, sebagai
seorang pakar tafsir bermazhab Maliki menulis karya tafsirnya dengan metode
analitis (tahlili) dan berusaha melakukan kritikan terhadap karya-karya
sebelumnya.
Dengan menggunakan tafsir tahlili maka sebagian orang mengatakan bahwa dengan
menggunakan tafsir tahlili saja lebih sulit di bandingkan dengan tafsir yang
lainya, seperti tafsir Ibnu Katsir, Qurtuby, Tafsir al-furqan, atau dengan
tafsir bil ma’stur karena tafsir bil ma’stur manggunakan penafsisran al-Qur’an
dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan hadits, al-Qur’an dan qaul sahabat, tabiin,
dan tabiut trabiin. Adapun tafsir
tahlili yakni dengan menjelaskan tafsir
al-Qur'an secara terperinci mulai dari surat al-Fatihah hingga surat an-Nas.
Beliau juga mengungkap ketinggian
bahasa al-Qur'an dan menghubungkannya dengan sistem budaya masyarakat guna
menjadikan al-Qur'an sebagai kitab petunjuk dan problem solver bagi
permasalahan sosial masyarakat atau dengan kata lain corak penafsirannya adalah
penafsiran Adabi Ijtima'i. Hal yang serupa juga disebutkan dalam buku “ Membahas Kitab Tafsir
Klasik-Modern” Faizah Ali Syibromalisi, MA. Dan Jauhar Azizy, MA.
Contoh penafsiran Muhammad Ibn
Asyur
واقىمواالصلاوة واتواالزكوةواركعوامع الركعين (البقرة : 34)
Artinya, Dan dirikanlah shalat dan
tunaikan zakat serta rukuklah beserta orang-yang rukuk (al-baqarah: 43).
Adalah perintah melakukan syiar islam setelah melakukan aqidah islam, perintah
pada pondasi yang paling agung setelah perintah iman dan mengucapkan dua kali
masyahadat. Dalam perintah di atas, terdapat ta’ridl (pengertian ) dengan
persangkaan baik terhadap jawaban mereka dan pemenuhan mereka terhadap perintah
yang ada. Mereka telah betul-betul
menyempurnakan hal-hal yang di minta. Dan ayat yang menjelaskan Dan
Berimanlah Pada Apa Yang Saya Turunkan... maksudnya adalah beriman kepada
Nabi SAW. Juga kepada perantara dan tujuannya.
Sistematika Penafsiran Tafsir Tahrir Wa At
Tanwirir
Mencermati penafsiran Ibn
Asyur dan sistematika penafsirnyaakan kita dapatkan langkah-langkah berikut:
1.
Menjelaskan nama suroh dan nama-nama lainyajika ada,
menjelaskan keutamaanya, menjelaskan makkiyah atau madaniyah ayat, jumlah ayat
dan lain-lain.
2.
Menjelaskan kandungan suroh secara global, dalam
poin-poin yang berbeda-bedasesuai dengan tema dan masalah yang dibahas dan sesuai
dengan susunanya dalam Al-Qur’an.
3.
Menjelaskan kandungan ayat demi ayat atau beberapa
ayat yang memiliki masalah atau tema yuang sama, secara rinci. Dimulai dari
pemaknaan kosa kata dengan I’rob dan pemaparan I’jazlughowinya, bila perlu
meminta penjelasan dari syair-syair arab jahili sebagai syahid atau penguat
kebahasaanya. Ia juga menjelaskan munasabah ayat, sebagai nuzul, nasakh
mansukh, dan lain-lain.
Karakteristik Tafsir Tahrir
Wa At Tanwirir
Diantara karakteristik tafsir yang menonjol darin tafsir Ibn Asyur
adalah sebagai berikut:
1.
Perhatian Ibn Asyur Terhadap Bahasa Arab.
2.
Perhatian Ibn Asyur Tentang Fiqh.
3. Perhatian Ibn Asyur Terhadap Qiraat Dalam
Tafsirnya.
C. Sumber Rujukan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Mengetahui sumber penafsiran
sebuah karya tafsie sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kapasitas
riwayat atau naql dan kapasitas ra’yi atau logika dalam tafsir tersebut. Dengan
kata lain, apakah tafsir itu hasil penukilan dari tafsir Nabi saw., Sahabat,
dan Tabi’in (Tafsir bi al-Ma’tsur) aqtau hasil ijtihad Ibn Asyur
seluruhnya ataukah hasil campuran (kolaborasi) dari tafsir bi Al-Ma’tsur dan
tafsir bi Al-Ro’yi.
a)
Tafsir bi al-Ma’tsur dan
D.
Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Ibn
Asyur
Diantara kelebihan tafsir Al-Tahrir Wa Al Tanwir Min Al Tafsir karangan Muhammad Ibnu
Asyur adalah sebagai berikut:
1. Menuliskan
Poin- Poin Yang Belum Ada Pada Tafsir Sebelumnya.
2. Menjelaskan
Sisi-sisi I’jaznya, secara mendetail dan termuat dalam satu kitab tersendiri.
3.
Linguistik Arab (Balagah: nahwu, sharaf, mantik, atau
logika)
4.
Dan Gaya Bahasa (Badi’) Jelas Simpel.
5.
Keselarasan Satu Ayat Dengan Ayat Yang Lainnya,
Kelemahannya adalah sebagai berikut:
1. Menitik
Beratkan Pada Makna-makna Mufradat (Kata Demi Kata) Dalam Bahasa Arab Dengan
Membatasi dan Meneliti Dari Orang Lain Dari Kamus-kamus Bahasa.
2. Meneruskan
Tafsir Abil Walid Ibnu Rusdi Dalam Kitab Al Bayan
3. Tidak
mencantumkan asbabun nuzul dalam menjelaskan ayat.
Isi
Kandungan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Dalam tafsir
ibnu asyur secara umum mengupas hal-hal sebagi berikut:
1. Menerangkan
nama surah, bilangan ayat dan keterangannya.
2. Menjelaskan
perkara yang berkaitan dengan akidah
3. Menyatakan
uraian al-Quran dengan al-Quran
4. Memaparkan
uraian al-Quran dengan al-Sunnah
5. Menjelaskan
tafsiran al-Quran dengan kalam ulama Salaf
6. Menjelaskan
kaitan dengan aspek sejarah
7. Membentangkan
kekeliruan Israeliyyat
8. Menjelaskan
perkaitan ilmu Qiraat
9. Menyatakan
hal yang bersangkutan dengan Fiqh dan Usul
10. Menghuraikan
berdasarkan ilmu yang lebih moden seperti fisika, falsafah dan mukjizat yang
terdapat di alam ini
11. Mengutamakan
perkatan dengan adab dan akhlak yang baik.
Karya-Karya Ilmiyah Tafsir Tahrir
Wa At Tanwirir
Dengan latar belakang rasio cultural yang kuat, kecintaan terhadap ilmu,
kejeniusan, ketekunan dan keikhlasan, disamping kometmen pada pendidikan dan
kewaroanya semuanya semuanya memotivasi Ibn Asyur untuk mengabdikan diri pada
ilmu, menjadi guru, tokoh agama, waktunya dihabiskan untuk mengajar dan menulis
buku. Dua bukunya yang fenomenal Tafsir at-Tahrir Wa at-Tanwir dan Maqosid
as-Syariah al-Islamiyah menjadi rujukan utama bagi para mufassir.
Adapun karya-karya Ibn Asyur antara lain:
Karya-karya Ibnu Asyur dalam Ilmu Keislaman:
a. Tahrir wa
al-Tahrir
b. Maqasid
asy-Syariah
c. Ushul
An-Nidham
d. Alaisa
As-Subhi
e. Al-Waqfu wa Atsaruhu fi Islam
f. Kasfu
al-Mughta mina-Ma’ani wa
al-Fadhil Waqiah fil
Muwatha’
g. Qisah
al-Maulid
h. Khausi Ala
Tanqih Lisyababu Ad-dinil Qarniy
i. Fatawa wa
Rasal Fiqhiiyah
j. At-Tawadhuhuttashih
fi Ushul Fiqh
Karya-karya Ibnu Asyur dalam bahasa Arab dan Sastra:
a. Ushul
Al-Insya’ wa Al-Khitabah
b. Mujizul
Balaghah
c. Syariah
Qasidul Aqsa
d. Tahqiq Diwan
Bisyar
e. Al-Wudhuh fi
Musykilah al-Mutnaba
f. Syarah Dal-himasah Liabi Tamam
g. Diwani
Nabighah Adz-Zhahabi
h. Tarjamah Liabi al-Alam
Karya-karya beliau dalam bentuk majalah ilmiah:
a. As-Saadah
al-Udhma
b. Al-Majalah
Az-Zaituniyah
c. Huda
Al-Islam
d. Nur Al-Islam
e. Misbah
Asy-Syirq
f. Majalah
Al-Manar
g. Majalah
al-Hidayah al-Islamiyah
h. Majalah
Majma’ al-Ilmi bi
Damaskus
Guru-Guru
Ibn Asyur
Setelah
memperoleh sertifikat lokalisasi ia kembali untuk menghadiri pelajaran dari
shaikh Muhammad al-Nakhli pada tahun 1318 H atau 1900 M, serta dari shaikh
al-Imam Salim Buhajib ia memperoleh ilmu sastra dan literaturnya dan memperoleh
gelar sarjana pada 25 Ramadhan 1323 H. Selain itu, Ibn Asyur dalam menuntut
ilmu, juga sering mendapat ijazah dari pada gurunya. Pemberian ijazah itu masih
menjadi tradisi pada waktu itu, diantara ulama-ulama yang memberikan ijazah
kepada Ibn Asyur adalah Shaikh Muhammad al-'Aziz Bu'atur, Shaikh Mahmud bin al-Khaujah
dan Amru bin al-Asyur.
Ibn Asyur
mengadakan perjalanan ke kawasan Mediterania Timur dan Eropa dan ikut
berpartisipasi dalam beberapa forum muslim, seperti menjadi utusan dalam forum
bahasa arab di Kairo tahun 1956 M dan forum ilmiah arab di Damaskus tahun 1955
M. diantara guru yang mengajar beliau adalah ayahnya sendiri yaitu Shaikh
Muhammad bin Asyur, selain itu Shaikh Ibrahim al-Riyahi, Shaikh Muhammad bin
al-Khaujah, Shaikh Asyur al-Sahili, Shaikh Muhammad al-Khadar, Shaikh Abd
al-Qadir al-Tamimi (bidang ilmu al-Nahwu dengan menggunakan kitab
Muqadimah al-I'rab, ilmu balaghah yang membahas kitab Mukhtasar
al-Su'ud, ilmu mantiq dengan membahas kitab al-Tahdhib, ilmu Usul
al-Fiqh dengan mempelajari kitab al-Hisab 'ala al-Waraqah dan Fiqh
Maliki dengan membahas kitab Muyarah 'ala al-Mursyid dan kitab Kifayah al-Talib 'ala al-Risalah. Shaikh
Muhammad Salih Syarif (bidang ilmu Nahwu dalam kitab al-Makwidi
'ala al-Khulas}ah, ilmu Mantiq dalam kitab al-Sulam, ilmu maqasid dalam
kitab Mukhtasar al-Su'ud dan fiqh dalam kitab al-Tawhidi 'ala al-Tuhfah),
Shaikh Amru bin Asyur (bidang ilmu nahwu dalam kitab Ta'liq al-Dimamaini
'ala al-Mughni karya Ibn Hisyam, ilmu balaghah kitab mukhtashar
al-Su'ud, fiqh dan ilmu fara'idl), Shaikh Muhammad al-Najr (mempelajari
kitab al-Muwaqif, must}alah al-Hadis dalam kitab al-Baiquniyah),
Shaikh Muhammad Tahir Ja'far (bidang usul fiqh dalam kitab al-Sharah
al-Mahalli 'ala Jam'i al-Jawami', sirah nabawiyah dalam kitab al-Shihab
al-Khafaji 'ala al-Shifa karya Qadi iyad, Shaikh Muhammad al-'Arabi
al-Dur'i (bidang ilmu fiqh dalam kitab Kifayah al-Talib 'ala al-Risalah)
dan lainya.
Para gurunya
telah menyaksikan kecerdasan dan kejeniusannya, serta kemampuannya dalam
menguasai berbagi disiplin ilmu yang disampaikan. Selain itu Ibn 'Asyur
memiliki keistimewaan diantara teman-temannya dengan mempelajari bahasa
perancis dengan bantuan guru pribadinya Sayyid Ahmad bin Wannas al-Mahmudi.
Adapun diantara murid-murid Ibn Asyur adalah Shaikh Abd al-Hamid (yang
mempelajari tentang sastra, bahasa arab, dan lain-lain), Muhammad al-Fadil bin
Asyur (yang mempelajari kitab tafsir al-Baidawi, al-Muwatta' dan lain-lain)
Penilaian Ulama terhadap Ibn Asyur.
Syaikh Muhammad Al-Kadr Husain
sebagai teman Ibn Asyur dalam belajar dan berjuang menuturkan bahwa Ibn Asyur
memiliki kefasihan ucapan, luas ketenanganya, istimewa ilmunya, kuat pikiranya,
bersih hatinya, luas pengetahuanya dalam sastra Arab dan yang paling indah
adalah ketakjubanya terhadap budi pekertinya tidak lebih sedikit dari kepandaianya
dalam ilmu. Al-Alamah Muhammad al-Basyr al-Ibrahim berkomentar bahwa Ibn Asyur
adalah seorang alim diantara para Ulama yang di perhitungkan dalam sejarah
karena keagunganya, Ibn Asyur adalah Imam yang berilmu seperti lautan, bisa
mandiri dalam beristidlal. Dr. Al-Habib bin al-Kaijah menilai bahwa ibnvAsyur adalah
salah satu keistimewaan dunia ini dan yang terakhir saya lihat, tidak ada yang
lain darinya di Afrika atau seperempat di Maroko atau Negara bagian Tinur
bahkan belahan dunia Islam, usahanya dalam menyelesa ikan karya tafsirnya tanpa
jenuh dan menulis karya-karya lain sejauh masa mudanya sampai wafat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kitab tafsir
At-Tahrir wa At-Tanwir merupakan tafsir kontemporer yang dikarang oleh
Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur. Beliau merupakan seorang ulama di Tunisia. Metode
Penafsiran yang digunakan Ibnu ‘Asyur dalam kitab tafsir At-Tahrir wa
At-Tanwir adalah metode tahlili karena kitab tafsir ini memenuhi kriteria
syarat-syarat metode tahlili (analisis). Corak (laun) penafsiran dalam
kitab tafsir ini adalah dengan tafsir bi al-ra’yi yaitu dengan menggunakan
aspek kebahasaan. Walaupun demikian beliau juga ada menafsirkan Al-Qur’an
dengan Al-Qur’an, dengan Hadits, perkataan sahabat pandangan ulama, dan kesemua
itu adalah untuk menjadi pendukung pendapat mufassir. Sedangkan pendekatan (madkhal)
yang beliau gunakan adalah adabi atau sastra, karena beliau lebih banyak
menjelaskan kajian kebahasaan yaitu gramatikal dan sastra dan juga beliau lebih
menjelaskan kata perkata dalam lafazh Al-Quran dan mengungkapkan makna-makna
suatu mufradat dalam ayat-ayat Al-Quran.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Said, Hasani, Diskursus
Munasabah Al-Qur’an Dalam Tafsir al-Misbah, Jakarta: Amzah, 2015
Al-Farmawi, Abdl Al-hayy, Al
Bidayah Fi Tafsir Al-Maudhu’i, Mesir: Maktabah Jumhuriyah, 1977
Ali
Syibromalisi, Faizah & Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern(Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011),
Asyur,Ibnu.Alaisa Subki.
Darussukun li al-Nasy wa Al-Thusy
Departemen RI,
AL-HIKMAH (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro,
2010
Halim, Abdul, Epistemologi Tafsir Ibnu 'Asyur
Dalam Kitab Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir. Thesis, Yogyakarta: UIN Sunan
Kalijaga, 2010
Mamud, Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor,
Metodologi Tafsir: Kajian Komperhensif
Metode Para Ahli Tafsir, Jakarta: PT Grafindo Persada,2006
Muhammad al-Tahir Ibn 'Asyur
, Tafsir al-Tahrir wa Tanwir
Mahmud,
Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor, Metodologi Tafsir:
Kajian Komperhensif Metode Para Ahli
Tafsir, (Jakarta: PT Grafindo Persada,2006), hal. 315.
Halim,
Abdul, Epistemologi Tafsir Ibnu 'Asyur Dalam Kitab Tafsir Al-Tahrir Wa
Al-Tanwir. Thesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010), hal. 18
Mamud, Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor, Metodologi
Tafsir, hal. 318