Jumat, 16 Desember 2016

TAFSIR SYEKH THOHIR IBN ASYUR DALAM AT TAHRIR WA AT TANWIR



MEMBAHAS KITAB TAFSIR
TAFSIR SYEKH THOHIR IBN ASYUR  DALAM  AT TAHRIR WA  AT TANWIR”

Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Semester Ganjil (Tiga) Tahun Akademik 2016/2017
Dosen Pembimbing :
Dr. Hasani Ahmad Said, MA.



Oleh:
Sahrul Badri : ( 11150340000204 )

ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016/2017
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt, yang memberikan kita nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa bertemu dan melaksanakan aktivitas sebagaimana mestinya.
Selawat salam tak lupa kita ucapkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang membimbing kita ke jalan petunjuk Al-Qur’an dan sebagai rahmatan lil-alamin. Waa Hudallil Mutaqqin. Serta agama yang benar yakni agama islam, keluarga serta sahabat-sahabatnya,  hingga hari ahir.
 (Amma ba’du).
Selanjutnya penyusun membahas atau membawakan tema tentang Muhammad Ibnu Asyur dan Metodologi penafsirannya dalam kitab Al-Tahrir Wa Al-Tanwir hasil karya beliau sendiri, disini penyusun hanya melihat bagaimana sistematika dan metodologi penafsirannya, bukan mensyarah (menambah isi) kitab tersebut, karena kita sama sama sadari posisi dan kapasitas kita jauh dibanding dengan pengarang kitab ini, atau dengn ulam mufasir lainnya, karena itu apa bila ada yang kurang atau salah dalam memberikan sajian  mengenai metodologi beliau, itu semata-mata kekurangan penyusun dan literatur yang penyusun baca, Kita sadar tak ada manusia yang sempurna diatas bumi ini, oleh karena itu penyusun berharap bimbingan pada dosen untuk memberikan saran dan pemahaman supaya lebih baik dari sebelumnya.
Pepatah mengatakn tak ada gading yang retak artinya manusia tak ada yang tak salah dan kurang, mohon maaf atas salah dan khilaf.
Terimakasih banyak atas kesediaannya membaca dan mengkeritisi demi khazanah keilmuan kita, amiin.
DAFTAR ISI
COVER …………………………………………………………...
KATA PENGANTAR…………………………………………….
DAFTAR ISI………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………….........
B.     Rumusan Masalah.………………………………………...
C.     Tujuan Penulisan………………………………………….
BAB II PEMBAHASAN
A.    Biografi Syekh Thohir Ibn Asyur…………………………
B.     Metode Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir……………….........
1. Pengertian Metode Tafsir………………………………
2. Metode Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir…………….........
3. Pendekatan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir……………..
4. Sistematika Penafsiran Tafsir Tahrir Wa At Tanwir…..
C.     Sumber Rujukan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir ………….
D.    Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Tahrir Wa At Tanwir…
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………...



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ibn Asyur mulai menulis tafsirnya setelah beralih jabatan dari qodi menjadi mufti (1341/ 1923 M).[1] Tafsir 30 juz sebanyak 15 jilid ditulis dalam waktu 39 tahun meskipun diselingin dengan penulisan karya-karya lainya, buku maupun makalah menunjukkan kesungguhan penulisnya, keikhlasan dan tekad kuat penulisnya untuk mewujudkan obsesinya berupa kitab tafsir yang utuhyang menyatukan antara kemaslahatan dunia dan akhirat.[2] Penulisan tafsir selama ini tentu telah diwarnai oleh berbagai peristiwa, perubahan dan peralihan yang besar di masyarakat Tunis. Usaha merebut kemerdekaan dari penjajah, berbagai tantangan yang dihadapi gerakan reformasi tentu berimbas pengaruhnya pada penafsiran Ibn Asyur. Gerakan reformasi dan pembaharuan yang dimotori oleh Muhammad Abduh di Mesir (1849- 1905), telah merebak ke berbagai belahan negara Islam. Tak terkecuali Tunis. Ide-ide pembaharuan Muhammad Abduhmulai mempengaruhi para intelektual Tunis tak terkecuali Ibn Asyur.
Pendidikan adlah obyek reformasi yang selalu dihimbau oleh Muhammd Abduh di Mesir, himbauan yang sama juga bergema di Tunis. Ibn Asyur merespon himbauan tersebut dan bergerak mereformasi pendidikan di Azzaitunah, mengikuti jejak-jejak ulama sebelumnya, ide-ide seputar pembaharuan dan reformasi pendidikan dituliskan dalam berbagai pembahasan. Reformasi Ibn Asyur menjadi tidak hanya pada sisi teori, tetapi merambah ke gerakan reformasi, hasilnya adalah dibangunya cabang-cabang Azzaitunah di berbagai kota di Tunis. Kualitas pendidikanpun ditingkatkan dengan menambahkan ilmu-ilmu selain ilmu syariah seperti matematika, kimia, filsafat, sejarah dan bahasa inggris.
Menelaah pembukaan Tafsir Ibn Asyur membuktikan bahwa Ibn Asyur memiliki cara tersendiriuntuk menafsirkan dan corak tafsirnya yang fenominal. Dari penafsiran ini pula bisa ditelusuri jejak-jejak keterlibatan Ibn Asyur dalam gerakan reformasi di Tunis, dimana Ibn Asyur tumbuh kembang, pemikiran dan langkah-langkahnya dipengaruhi oleh ide-ide yang digagas dalam rangka reformasidan pembaharuan di Tunis.
Sejak awal penulisan tafsirnya Ibn Asyur memang selalu kometmen untuk menjadikan penafsiranya sebagai sebuah kritik bukan taqlid. Sisi pembaharuan Ibn Asyurdapat dicermati dari obsesinya menafsirkan Al-qur’anyaitu memunculkan hal-hal baruyang belum ditulis dalam tafsir-tafsir sebelumnya, menjadikan penafsirnya sebagai penengah dari tafsir-tafsir lainya yang menggabungkan sumber penafsiranya pada tafsir bi al-ma’tsur dan bi al-ro’yi, karena menurut Ibn Asyur membatasi penasiran hanya pada tafsir bi al-ma’tsur akan menelantarkan isi kandungan Al-qur’an yang memang tidak akan pernah habis untuk dibahas.[3] Bakhan menurut Ibn Asyur diantara sebab-sebab terlambatnya perkembangan ilmu tafsir dan tafsir itu sendiriadalah kecendrungan yang berlebihan terhadap tafsir bi al-ma’tsur dan penukilan terhadap perkataan Sahabat dan Tabiin. Ketakutan melakukan kekeliruan dalam penafsiran, mengakibatkan orang hanya menjadikan tafsir bi al-ma’tsur sebagai satu-satunya sumber penafsiran. Padahal nabi tidak menafsirkan seluruh ayat Al-qur’an, disamping apa yang diambil dari tafsir bi al-ma’tsur mungkin ada yang perawinya lemah, adisamping orang beranggapan bahwa menyalahi tafsiryang dinukil dari perawi sebelumnya dianggap keluar dari apa yang dimaksudkan dari Al-qur’an.[4]
Pada kondisi seperti ini, pada akhirnya tafsir hanyalah berupa penukilan dari tafsir-tafsir sebelumnhya yang akan membatasi pemahaman terhadap Al-qur’an dan mempersempit maknanya. Contoh nyata dari pembaharuan Ibn Asyur bisa dilihat pada nama tafsirnya yang semula berjudul Tahrir al-Ma’na al-Sadid wa Tanwir al-Aql al-Jadid (Memilih Makna yang Tepat dan Mencerahkan akal yang baru) kemudian judul tafsirnya yang panjang itu disingkat menjadi al-Tahrir wa al-Tanwir.[5]
B.     Rumusan Masalah
1. Siapakah Muhammad Ibnu Asyur ?
2. Bagaimana Metode Penafsiran Muhammad Ibnu Asyur Dalam Kitab Tafsirnya ?
3. Apa Sajakah Karya-Karya Ilmiah Ibn Asyur  ?

C.    Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Biografi Tokoh Mufassir yakni Muhammad Ibnu Asyur.
2. Mengetahui Bagaimana Metode Yang Di Pakai Dalam Menafsirkan Al- Qur’an al- Karim Dalam Kitab Tahrir Al Ma’na Al Sadid Wa Tanwir Al Aqli Al Jadid Min Tafsir Al Kitab Al Jadid.
















BAB II
PEMBAHASAN
A.     Biografi Ibn Asyur
Ia adalah Muhammad al-Thahir ibn Muhammad al-Thahir ibn Asyur.[6] Keturuna keluarga Asyur yang terkenal di Tunis, karena memiliki posisi ilmiah dan jabatan di pemerintah.
            Ibn Asyur dilahirkan pada tahun 1296 H/ 1879 M di kota Mousa, yang terletak  di sebelah utara Tunisia. Ibn Asyur tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan. Pendidikanya diperhatikan penuh oleh ayah, ibu, dan kakeknya. Mereka menginginkan cucunya menjadi orang yang terhormat seperti nenek moyang mereka.
            Ibn Asyur mulai belajar al-qur’an sejak usia 6 tahun. Ia kemudian menghafal Matan al-jurumiyyah dan bahasa perancis. Baru pada usia 14 tahun, Ibn Asyur tercatat sebagai murid pada Universitas Az-Zaitunah (1310 H/ 1839 M). [7] Di sana ia belajar ilmu syariah (fiqh dan ushul fiqh), bahasa Arab, hadist, sejarah, dan lain-lain. Setelah belajar selama 7 tahun di Universitas Az-zaitunah Ibn Asyur berhasil menempuh gelar sarjana, tepatnya pada tahun 1317 H/ 1899 M.[8]
            Sekian banyak ilmu yang didapat dari Universita Azzaitunah Nampaknya belum memenuhi dahaganya dalam menuntut ilmu. Di waktu luangnya, Ibn Asyur menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku tafsir, buku-buku al-Milal wa al-Nihal, menghafal hadist-hadist, syair-syair arab dari masa pra Islam hingga sesudahnya, membaca buku-buku sejarah, dan lain-lain.
            Semua ilmu yang diperolehnya dari Azzaitunah dan aktivitas keilmuanya telah ikut andil membentuk kepribadian dan intelektualitasnya yang tinggi. Di samping itu perhatian ayah dan kakeknya yang menanamkan akhlak mulia kepada Ibn Asyur telah memberikan pengaruh pada pribadinya yang bersahaja sebagai seorang ulama di Tunis. Ibn Asyur wafat pada 1393 H/ 1973 M. 
B.     Metode Penulisan Tasir Ibnu Asyur (Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir)
Metode (Thariqoh) kata metode diambil dari bahasa yunani, yaitu metodhos yang artinya cara atau jalan. Dalam bahasa arab metode, dikenal dengan thariqoh. Metode dalam bahasa Indonesia berarti cara yang teratur dan terpikir baik untuk m,encapai maksud. Namun metode yang dimaksud di sini di kaitkan dengan metode tafsir yang berarti pengetahuan mengenai cara yang ditempuh dalam menelaah, membahas dan merefleksikan kesan-kesan Al-Qur’an secara apresiatif berdasarkan kerangka konseptual tertentu sehingga menghasilkan karya tafsir yanag apresiatif.[9]
Mengkaji tafsir buah karangan Ibnu Asyur tentu kita lihat dari berbagai aspek mulai dari segi materi, kitab ini terdiri dari tiga puluh juz dan terbagi kepada dua belas jilid. Masih diterbitkan oleh penerbit tunggal yang cukup terkenal. Sebuah tafsir kontemporer yang memiliki ciri khas tersendiri dalam paparannya menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Memiliki tampilan unik dan berbeda dengan kitab lain secara menyeluruh. Memiliki metode penyusunan yang konferhensif, yang tidak menghususkan satu jilid untuk satu juz saja melainkan secara acak. Kadang memuat dua juz bahkan sampai lima juz perjilidnya.
Beliau memulai tafsirnya dengan sekelumit materi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan dasar memahami seluk beluk gaya bahasa Al-Quran secara singkat. Memaparkan muqaddimahnya sampai kepada sepuluh bagian pembukaan, mulai dari penjelasan tafsir dan ta'wil, penjelasan fenomena tafsir bil ma'tsur dan bir-ra'yi, asbabununnuzul, sampai kepada i'jazuI Qur’an.
Itupun sampai menghabiskan seratus halaman pertama untuk penjelasan sesingkat ini. Mendeskripsikan cakupan bahasan dalam tafsir ini, beliau mengungkapkan dalam pendahuluan tafsirnya, “Saya benar-benar berusaha menampilkan dalam tafsir Al-Quran hal-hal langka yang belum digarap oleh ulama tafsir sebelumnya. Menempatkan diri sebagai penengah perbedaan pendapat ulama yang pada satu waktu sepaham dengan salah satunya dan pada waktu lain berseberangan pendapat dengan alasan tersendiri. Dalam tafsir ini, saya berusaha mengungkap setiap i'jazul Quran, nilai-nilai linguistik arab (balaghah) , gaya bahasa (badi’), yang terkandung dalam sebuah kalimat Al-Quran serta menjelaskan uslub-uslub penggunaannya menjelaskan hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya, terutama antara satu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.[10]
Al-Quran telah didesain dengan sangat luar biasa, memiliki susunan yang unik namun tetap memiliki ketersambungan antara satu ayat dengan ayat lain. Tidak melewatkan satu surat pun dalam Al-Quran kecuali berusaha menjelaskan secara lengkap setiap maksud yang terkandung di dalamnya secara utuh. Tidak sebatas menjelaskan makna setiap kata dan kalimatnya saja secara parsial, melainkan merangkai kembali makna tiap kata dan kalimat yang telah diurai terpisah menjadi satu tujuan atau maksud yang diusung oleh setiap ayat maupun surah Al-Quran. Dalam metode pemaparan tafsir ini, tidak terlewatkan penjelasan secara gamblang tinjauan bahasa setiap kata dalam Al-Quran, menyimak hikmah dari pemilihan kata yang digunakan sampai kepada sisi gramatikal setiap kalimat. Secara spesifik menilik setiap Al-Quran dari kacamata ilmu nahwu dan tashrif, turut melengkapi posisi i'rab dari penggalan kata-kata Al-Quran.[11]
Kita mnegetahui bahwa Muhammad Ibnu Asyur menitikberatkan terhadap tafsirnya Al tahrir wa tanwir terutama menjelaskan sisi-sisi i’jaznya, linguistik arab (balagah).
Setelah menjabarkan panjang lebar tentang pendekatan Muhammad Ibnu Asyur dalam menulis tafsirnya bisa kita simpulkan metode yang dipakai hanya mencakup satu metodolgi yaitu metode bil-lughah atau  masuk ke metode tahlili, sebagai seorang pakar tafsir bermazhab Maliki menulis karya tafsirnya dengan metode analitis (tahlili) dan berusaha melakukan kritikan terhadap karya-karya sebelumnya.[12] Dengan menggunakan tafsir tahlili maka sebagian orang mengatakan bahwa dengan menggunakan tafsir tahlili saja lebih sulit di bandingkan dengan tafsir yang lainya, seperti tafsir Ibnu Katsir, Qurtuby, Tafsir al-furqan, atau dengan tafsir bil ma’stur karena tafsir bil ma’stur manggunakan penafsisran al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan hadits, al-Qur’an dan qaul sahabat, tabiin, dan  tabiut trabiin. Adapun tafsir tahlili  yakni dengan menjelaskan tafsir al-Qur'an secara terperinci mulai dari surat al-Fatihah hingga surat an-Nas.[13]
Beliau juga mengungkap ketinggian bahasa al-Qur'an dan menghubungkannya dengan sistem budaya masyarakat guna menjadikan al-Qur'an sebagai kitab petunjuk dan problem solver bagi permasalahan sosial masyarakat atau dengan kata lain corak penafsirannya adalah penafsiran Adabi Ijtima'i.[14] Hal yang serupa juga disebutkan dalam buku “ Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern” Faizah Ali Syibromalisi, MA. Dan Jauhar Azizy, MA.[15]

Contoh penafsiran Muhammad Ibn Asyur
                                                       
واقىمواالصلاوة واتواالزكوةواركعوامع الركعين (البقرة : 34)
Artinya, Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat serta rukuklah beserta orang-yang rukuk (al-baqarah: 43).[16] Adalah perintah melakukan syiar islam setelah melakukan aqidah islam, perintah pada pondasi yang paling agung setelah perintah iman dan mengucapkan dua kali masyahadat. Dalam perintah di atas, terdapat ta’ridl (pengertian ) dengan persangkaan baik terhadap jawaban mereka dan pemenuhan mereka terhadap perintah yang ada. Mereka telah betul-betul  menyempurnakan hal-hal yang di minta. Dan ayat yang menjelaskan Dan Berimanlah Pada Apa Yang Saya Turunkan... maksudnya adalah beriman kepada Nabi SAW. Juga kepada perantara dan tujuannya.[17]
Sistematika Penafsiran Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Mencermati penafsiran Ibn Asyur dan sistematika penafsirnyaakan kita dapatkan langkah-langkah berikut:
1.      Menjelaskan nama suroh dan nama-nama lainyajika ada, menjelaskan keutamaanya, menjelaskan makkiyah atau madaniyah ayat, jumlah ayat dan lain-lain.
2.      Menjelaskan kandungan suroh secara global, dalam poin-poin yang berbeda-bedasesuai dengan tema dan masalah yang dibahas dan sesuai dengan susunanya dalam Al-Qur’an.
3.      Menjelaskan kandungan ayat demi ayat atau beberapa ayat yang memiliki masalah atau tema yuang sama, secara rinci. Dimulai dari pemaknaan kosa kata dengan I’rob dan pemaparan I’jazlughowinya, bila perlu meminta penjelasan dari syair-syair arab jahili sebagai syahid atau penguat kebahasaanya. Ia juga menjelaskan munasabah ayat, sebagai nuzul, nasakh mansukh, dan lain-lain.[18]
Karakteristik Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Diantara karakteristik tafsir yang menonjol darin tafsir Ibn Asyur adalah sebagai berikut:
1. Perhatian Ibn Asyur Terhadap Bahasa Arab.
2. Perhatian Ibn Asyur Tentang Fiqh.
3. Perhatian Ibn Asyur Terhadap Qiraat Dalam Tafsirnya.[19]
C. Sumber Rujukan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Mengetahui sumber penafsiran sebuah karya tafsie sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kapasitas riwayat atau naql dan kapasitas ra’yi atau logika dalam tafsir tersebut. Dengan kata lain, apakah tafsir itu hasil penukilan dari tafsir Nabi saw., Sahabat, dan Tabi’in (Tafsir bi al-Ma’tsur) aqtau hasil ijtihad Ibn Asyur seluruhnya ataukah hasil campuran (kolaborasi) dari tafsir bi Al-Ma’tsur dan tafsir bi Al-Ro’yi.
a)      Tafsir bi al-Ma’tsur dan
b)      Tafsir bi al-Ro’yi[20]

D.    Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Ibn Asyur
Diantara kelebihan tafsir Al-Tahrir Wa Al Tanwir Min Al Tafsir karangan Muhammad Ibnu Asyur adalah sebagai berikut:
1.      Menuliskan Poin- Poin Yang Belum Ada Pada Tafsir Sebelumnya.
2.      Menjelaskan Sisi-sisi I’jaznya, secara mendetail dan termuat dalam satu kitab tersendiri.
3.      Linguistik Arab (Balagah: nahwu, sharaf, mantik, atau logika)
4.      Dan Gaya Bahasa (Badi’) Jelas Simpel.
5.      Keselarasan Satu Ayat Dengan Ayat Yang Lainnya,
Kelemahannya adalah sebagai berikut:
1.      Menitik Beratkan Pada Makna-makna Mufradat (Kata Demi Kata) Dalam Bahasa Arab Dengan Membatasi dan Meneliti Dari Orang Lain Dari Kamus-kamus Bahasa.
      2.      Meneruskan Tafsir Abil Walid Ibnu Rusdi Dalam Kitab Al Bayan
      3.      Tidak mencantumkan asbabun nuzul dalam menjelaskan ayat.

Isi Kandungan Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Dalam tafsir ibnu asyur secara umum mengupas hal-hal sebagi berikut:
1. Menerangkan nama surah, bilangan ayat dan keterangannya.
2. Menjelaskan perkara yang berkaitan  dengan akidah
3. Menyatakan uraian al-Quran dengan al-Quran
4. Memaparkan uraian al-Quran dengan al-Sunnah
5. Menjelaskan tafsiran al-Quran dengan kalam ulama Salaf
6. Menjelaskan kaitan dengan aspek sejarah
7. Membentangkan kekeliruan Israeliyyat
8. Menjelaskan perkaitan ilmu Qiraat
9. Menyatakan hal yang bersangkutan dengan Fiqh dan Usul
10. Menghuraikan berdasarkan ilmu yang lebih moden seperti fisika, falsafah dan mukjizat yang terdapat di alam ini
11. Mengutamakan perkatan dengan adab dan akhlak yang baik.[21]
Karya-Karya Ilmiyah Tafsir Tahrir Wa At Tanwirir
Dengan latar belakang rasio cultural yang kuat, kecintaan terhadap ilmu, kejeniusan, ketekunan dan keikhlasan, disamping kometmen pada pendidikan dan kewaroanya semuanya semuanya memotivasi Ibn Asyur untuk mengabdikan diri pada ilmu, menjadi guru, tokoh agama, waktunya dihabiskan untuk mengajar dan menulis buku. Dua bukunya yang fenomenal Tafsir at-Tahrir Wa at-Tanwir dan Maqosid as-Syariah al-Islamiyah menjadi rujukan utama bagi para mufassir.
Adapun karya-karya Ibn Asyur antara lain:

Karya-karya Ibnu Asyur dalam Ilmu Keislaman:
a.       Tahrir wa al-Tahrir
b.      Maqasid asy-Syariah
c.       Ushul An-Nidham
d.      Alaisa As-Subhi
e.       Al-Waqfu wa Atsaruhu fi Islam
f.       Kasfu al-Mughta mina-Ma’ani wa al-Fadhil Waqiah fil Muwatha’
g.      Qisah al-Maulid
h.      Khausi Ala Tanqih Lisyababu Ad-dinil Qarniy
i.        Fatawa wa Rasal Fiqhiiyah
j.        At-Tawadhuhuttashih fi Ushul Fiqh

Karya-karya Ibnu Asyur dalam  bahasa Arab dan Sastra:
a.       Ushul Al-Insya’ wa Al-Khitabah
b.      Mujizul Balaghah
c.       Syariah Qasidul Aqsa
d.      Tahqiq Diwan Bisyar
e.       Al-Wudhuh fi Musykilah al-Mutnaba
f.       Syarah Dal-himasah Liabi Tamam
g.      Diwani Nabighah Adz-Zhahabi
h.      Tarjamah Liabi al-Alam

Karya-karya beliau dalam bentuk majalah ilmiah:
a.       As-Saadah al-Udhma
b.      Al-Majalah Az-Zaituniyah
c.       Huda Al-Islam
d.      Nur Al-Islam
e.       Misbah Asy-Syirq
f.       Majalah Al-Manar
g.      Majalah al-Hidayah al-Islamiyah
h.      Majalah Majma’ al-Ilmi bi Damaskus[22]

Guru-Guru Ibn Asyur
Setelah memperoleh sertifikat lokalisasi ia kembali untuk menghadiri pelajaran dari shaikh Muhammad al-Nakhli pada tahun 1318 H atau 1900 M, serta dari shaikh al-Imam Salim Buhajib ia memperoleh ilmu sastra dan literaturnya dan memperoleh gelar sarjana pada 25 Ramadhan 1323 H. Selain itu, Ibn Asyur dalam menuntut ilmu, juga sering mendapat ijazah dari pada gurunya. Pemberian ijazah itu masih menjadi tradisi pada waktu itu, diantara ulama-ulama yang memberikan ijazah kepada Ibn Asyur adalah Shaikh Muhammad al-'Aziz Bu'atur, Shaikh Mahmud bin al-Khaujah dan Amru bin al-Asyur.
Ibn Asyur mengadakan perjalanan ke kawasan Mediterania Timur dan Eropa dan ikut berpartisipasi dalam beberapa forum muslim, seperti menjadi utusan dalam forum bahasa arab di Kairo tahun 1956 M dan forum ilmiah arab di Damaskus tahun 1955 M. diantara guru yang mengajar beliau adalah ayahnya sendiri yaitu Shaikh Muhammad bin Asyur, selain itu Shaikh Ibrahim al-Riyahi, Shaikh Muhammad bin al-Khaujah, Shaikh Asyur al-Sahili, Shaikh Muhammad al-Khadar, Shaikh Abd al-Qadir al-Tamimi (bidang ilmu al-Nahwu dengan menggunakan kitab Muqadimah al-I'rab, ilmu balaghah yang membahas kitab Mukhtasar al-Su'ud, ilmu mantiq dengan membahas kitab al-Tahdhib, ilmu Usul al-Fiqh dengan mempelajari kitab al-Hisab 'ala al-Waraqah dan Fiqh Maliki dengan membahas kitab Muyarah 'ala al-Mursyid dan kitab  Kifayah al-Talib 'ala al-Risalah. Shaikh Muhammad Salih Syarif (bidang ilmu Nahwu dalam kitab al-Makwidi 'ala al-Khulas}ah, ilmu Mantiq dalam kitab al-Sulam, ilmu maqasid dalam kitab Mukhtasar al-Su'ud dan fiqh dalam kitab al-Tawhidi 'ala al-Tuhfah), Shaikh Amru bin Asyur (bidang ilmu nahwu dalam kitab Ta'liq al-Dimamaini 'ala al-Mughni karya Ibn Hisyam, ilmu balaghah kitab mukhtashar al-Su'ud, fiqh dan ilmu fara'idl), Shaikh Muhammad al-Najr (mempelajari kitab al-Muwaqif, must}alah al-Hadis dalam kitab al-Baiquniyah), Shaikh Muhammad Tahir Ja'far (bidang usul fiqh dalam kitab al-Sharah al-Mahalli 'ala Jam'i al-Jawami', sirah nabawiyah dalam kitab al-Shihab al-Khafaji 'ala al-Shifa karya Qadi iyad, Shaikh Muhammad al-'Arabi al-Dur'i (bidang ilmu fiqh dalam kitab Kifayah al-Talib 'ala al-Risalah) dan lainya.
Para gurunya telah menyaksikan kecerdasan dan kejeniusannya, serta kemampuannya dalam menguasai berbagi disiplin ilmu yang disampaikan. Selain itu Ibn 'Asyur memiliki keistimewaan diantara teman-temannya dengan mempelajari bahasa perancis dengan bantuan guru pribadinya Sayyid Ahmad bin Wannas al-Mahmudi. Adapun diantara murid-murid Ibn Asyur adalah Shaikh Abd al-Hamid (yang mempelajari tentang sastra, bahasa arab, dan lain-lain), Muhammad al-Fadil bin Asyur (yang mempelajari kitab tafsir al-Baidawi, al-Muwatta' dan lain-lain)[23]
Penilaian Ulama terhadap Ibn Asyur.
Syaikh Muhammad Al-Kadr Husain sebagai teman Ibn Asyur dalam belajar dan berjuang menuturkan bahwa Ibn Asyur memiliki kefasihan ucapan, luas ketenanganya, istimewa ilmunya, kuat pikiranya, bersih hatinya, luas pengetahuanya dalam sastra Arab dan yang paling indah adalah ketakjubanya terhadap budi pekertinya tidak lebih sedikit dari kepandaianya dalam ilmu. Al-Alamah Muhammad al-Basyr al-Ibrahim berkomentar bahwa Ibn Asyur adalah seorang alim diantara para Ulama yang di perhitungkan dalam sejarah karena keagunganya, Ibn Asyur adalah Imam yang berilmu seperti lautan, bisa mandiri dalam beristidlal. Dr. Al-Habib bin al-Kaijah menilai bahwa ibnvAsyur adalah salah satu keistimewaan dunia ini dan yang terakhir saya lihat, tidak ada yang lain darinya di Afrika atau seperempat di Maroko atau Negara bagian Tinur bahkan belahan dunia Islam, usahanya dalam menyelesa ikan karya tafsirnya tanpa jenuh dan menulis karya-karya lain sejauh masa mudanya sampai wafat. [24]



















BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

         Kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir merupakan tafsir kontemporer yang dikarang oleh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur. Beliau merupakan seorang ulama di Tunisia. Metode Penafsiran yang digunakan Ibnu ‘Asyur dalam kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir adalah metode tahlili karena kitab tafsir ini memenuhi kriteria syarat-syarat metode tahlili (analisis). Corak (laun) penafsiran dalam kitab tafsir ini adalah dengan tafsir bi al-ra’yi yaitu dengan menggunakan aspek kebahasaan. Walaupun demikian beliau juga ada menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, dengan Hadits, perkataan sahabat pandangan ulama, dan kesemua itu adalah untuk menjadi pendukung pendapat mufassir. Sedangkan pendekatan (madkhal) yang beliau gunakan adalah adabi atau sastra, karena beliau lebih banyak menjelaskan kajian kebahasaan yaitu gramatikal dan sastra dan juga beliau lebih menjelaskan kata perkata dalam lafazh Al-Quran dan mengungkapkan makna-makna suatu mufradat dalam ayat-ayat Al-Quran. 












DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Said, Hasani, Diskursus Munasabah Al-Qur’an Dalam Tafsir al-Misbah, Jakarta: Amzah, 2015
Al-Farmawi, Abdl Al-hayy, Al Bidayah Fi Tafsir Al-Maudhu’i, Mesir: Maktabah Jumhuriyah, 1977
Ali Syibromalisi, Faizah & Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern(Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011),
Asyur,Ibnu.Alaisa Subki. Darussukun li al-Nasy wa Al-Thusy
Departemen RI,  AL-HIKMAH (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2010
Halim, Abdul, Epistemologi Tafsir Ibnu 'Asyur Dalam Kitab Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir. Thesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010
Mamud, Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor, Metodologi Tafsir: Kajian Komperhensif  Metode Para Ahli Tafsir, Jakarta: PT Grafindo Persada,2006
Muhammad al-Tahir Ibn 'Asyur , Tafsir al-Tahrir wa Tanwir


[1] Ibn Asyur, Tafsir At-Tahrir wa al-Tanwir, jil. I, hal. 6.
[2] Ibn Asyur, Tafsir At-Tahrir wa al-Tanwir, pada lembaran pertama Tauhid
[3] Ibn Asyur, Tafsir At-Tahrir wa al-Tanwir, jil. I, hal. 7.
[4] Ibn Asyur, Tafsir At-Tahrir wa al-Tanwir, jil. I, hal. 38.
[5] Ibn Asyur, Tafsir At-Tahrir wa al-Tanwir, jil. I, hal. 8.
[6] Dari garis keturunan ibn Asyurini lahir para intelektual, qodi, dan mufassir, serta orang-orang yang memangku jabatan penting lainya dari abad II sampai 14 H/ 17-20 M, diantara keturunan Ibn Asyur yang tercatat dalam sejarah adalah Muhammad Thoir ibn Abdul Qodir ibn Asyur seorang sastrawan, qodi, dan mufti yang menjadi objek pembahasan kita. Nama lainya adalah seorang mufassir dan putranya Muhammad Fdhil ibn Asyur (W 1390 H/ 1970 M) seorang ilmuan, politikus dan kolumnis yang terkenal di Tunis.
                Asyur adalah kunyah dari sebuah keluarga besar dari keturunan Al Idrisyi Al Husyainiyah, nenek moyang para pemuka masyarakat di Maroko. Salah satu anggota keluarga ini yaitu Ibn Asyur hijrah ke Tunis dan menetap disana.  
[7] Muhammad Al Thohir ibn Asyur, Tafsir Ibn Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, jil I, hal. 25-26
[8] Jam al-Jawami’ al-A’zham, hal. 56-57
[9] Ahmad Said, Hasani, Diskursus Munasabah Al-qur’an Dalam Tafsir Al-misbah, hal. 121
[10] Mahmud, Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor, Metodologi Tafsir: Kajian Komperhensif  Metode Para Ahli Tafsir, (Jakarta: PT Grafindo Persada,2006), hal. 315.
[11] Mamud, Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor, Metodologi Tafsir:  hal. 317
[12] Halim, Abdul, Epistemologi Tafsir Ibnu 'Asyur Dalam Kitab Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir. Thesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010), hal. 18
                                                                                                                                                                            
[13] Al-hayy, Al-Farmawi, Al Bidayah Fi Tafsir Al-Maudhu’i, (Mesir: Maktabah Jumhuriyah, 1977), hal. 24
[14] Halim, Abdul, Epistemologi Tafsir Ibnu 'Asyur Dalam Kitab Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir. Thesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010), hal. 18
[15] Ali Syibromalisi, Faizah & Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern(Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), hal. 123
[16] Departemen RI, AL-HIKMAH (Al-Qur’an dan Terjemahnya, ( Bandung: Diponegoro, 2010), hal. 7
[17] Mamud, Mani’ Abdul Halim, alih bahasa Faisal Saleh & Syahdianor, Metodologi Tafsir, hal. 318
[18] Ali Syibromalisi, Faizah & Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern(Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), hal. 128
[19] Ali Syibromalisi, Faizah & Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern(Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), hal. 125-126
[20] Ali Syibromalisi, Faizah & Azizy, Jauhar, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern(Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), hal. 115-118
[21] Ibn Asyur, Muammad, Tahrir, hal. 24
[22] Ibnu ‘Asyur, Alaisa Subhi, Darussukun li al-Nasry wa al-Thusy, hal. 18
[23] Muhammad al-Tahir Ibn 'Asyur , Tafsir al-Tahrir wa Tanwir
[24] Balqasim al-Ghaly,hal. 38

Tidak ada komentar:

Posting Komentar